DIA TEST

Seandainya Saya Diberi Kesempatan Kembali ke Usia 18 Tahun

Seandainya Saya Diberi Kesempatan Kembali ke Usia 18 Tahun

# Seandainya Saya Diberi Kesempatan Kembali ke Usia 18 Tahun

Belakangan ini saya cukup sering berhenti sejenak untuk merenung.

Bukan tentang bisnis yang sedang dijalankan.

Bukan pula tentang pencapaian finansial.

Apalagi tentang target-target yang belum berhasil diwujudkan.

Ada satu pertanyaan sederhana yang terus muncul dalam benak saya—pertanyaan yang mungkin juga pernah terlintas dalam pikiran banyak orang.

“Jika saya bisa kembali ke usia 18 tahun, apa yang akan saya lakukan secara berbeda?”

Awalnya saya mengira jawabannya mudah.

Mungkin saya akan memilih jurusan yang berbeda.

Mengambil keputusan yang lebih tepat.

Menghindari kesalahan-kesalahan tertentu.

Atau mencari jalan pintas menuju kesuksesan lebih cepat.

Namun semakin lama saya memikirkannya, semakin saya sadar bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih.

Sebab hidup bukan sekadar kumpulan keputusan benar dan salah.

Hidup adalah perjalanan panjang untuk memahami diri sendiri.

Dan jika ada satu hal yang paling saya sesali, itu bukan karena saya pernah gagal.

Melainkan karena saya terlalu lama mengenal dunia, tetapi terlambat mengenal diri sendiri.

## Saat Berusia 18 Tahun, Saya Merasa Sudah Tahu Segalanya

Saya masih ingat bagaimana rasanya berada di usia 18 tahun.

Usia ketika kita merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan arah masa depan.

Kita merasa telah memahami apa yang diinginkan.

Merasa mampu mengambil keputusan besar.

Merasa siap menghadapi kehidupan.

Namun hari ini, ketika menoleh ke belakang, saya hanya bisa tersenyum.

Ternyata saat itu saya belum benar-benar mengenal siapa diri saya.

Saya tahu mata pelajaran yang saya sukai.

Saya tahu profesi yang tampak menarik.

Saya tahu jurusan yang dianggap menjanjikan.

Tetapi ada satu hal yang justru belum saya pahami.

Saya belum mengenal diri sendiri.

Saya belum memahami cara berpikir saya.

Saya belum tahu lingkungan seperti apa yang membuat saya berkembang.

Saya belum mengenali kekuatan alami yang saya miliki.

Saya belum melihat potensi terbesar yang sebenarnya dapat dimaksimalkan.

Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya.

Banyak dari kita tumbuh dalam sistem pendidikan yang mengajarkan berbagai hal tentang dunia, tetapi hanya sedikit mengajarkan tentang diri kita sendiri.

Kita belajar matematika.

Belajar sains.

Belajar bahasa.

Belajar sejarah.

Namun hampir tidak pernah diajarkan cara memahami diri sendiri.

Padahal, mungkin itulah pelajaran terpenting dalam kehidupan.

## Kita Diminta Menentukan Masa Depan Sebelum Mengenal Diri

Ada satu hal yang hingga kini sering membuat saya berpikir.

Mengapa pada usia belasan tahun kita diminta mengambil keputusan besar yang dampaknya bisa berlangsung puluhan tahun?

Kita diminta memilih jurusan.

Memilih pekerjaan.

Menentukan arah hidup.

Padahal pada saat yang sama, kita masih berusaha memahami siapa diri kita sebenarnya.

Akibatnya, banyak keputusan dibuat berdasarkan hal-hal di luar diri.

Ada yang mengikuti pilihan teman.

Ada yang menuruti harapan orang tua.

Ada yang mengejar gengsi.

Ada yang mengikuti tren.

Ada pula yang sekadar takut dianggap gagal.

Tidak sedikit orang akhirnya menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak selaras dengan dirinya.

Mereka bertahan karena merasa sudah terlanjur.

Terus berjalan meski jauh di dalam hati merasa ada sesuatu yang tidak sesuai.

## Hidup Tidak Selalu Mengikuti Rencana

Dulu saya berpikir hidup memiliki pola yang sederhana.

Sekolah.

Kuliah.

Bekerja.

Menikah.

Membangun keluarga.

Lalu semuanya berjalan baik.

Namun kenyataannya, hidup jauh lebih kompleks daripada itu.

Ada tikungan yang tidak pernah direncanakan.

Ada kegagalan yang tak pernah diinginkan.

Ada kehilangan yang sulit diterima.

Ada perubahan yang memaksa kita memandang hidup dari sudut yang berbeda.

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa tujuan hidup bukanlah menghindari semua kesalahan.

Melainkan belajar dari setiap pengalaman yang datang.

Karena sering kali, pelajaran terbesar justru lahir dari jalan yang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

## Jika Bisa Mengulang Waktu, Saya Akan Lebih Banyak Mengenal Diri

Jika benar saya dapat kembali ke usia 18 tahun, mungkin saya tidak akan terlalu sibuk mencari jalan tercepat menuju kesuksesan.

Saya tidak akan terlalu terobsesi pada profesi yang terlihat bergengsi.

Saya juga tidak akan mengejar hal-hal yang sedang populer.

Sebaliknya, saya akan meluangkan lebih banyak waktu untuk mengenali diri sendiri.

Saya akan bertanya:

Apa yang membuat saya bersemangat setiap hari?

Aktivitas apa yang membuat saya lupa waktu?

Apa kekuatan alami yang saya miliki?

Lingkungan seperti apa yang membuat saya berkembang?

Masalah apa yang ingin saya bantu selesaikan selama hidup ini?

Karena saya percaya, ketika seseorang memahami dirinya dengan baik, banyak keputusan besar menjadi lebih mudah diambil.

Bukan karena hidup menjadi tanpa masalah.

Tetapi karena arah perjalanan menjadi lebih jelas.

## Waktu Adalah Aset yang Tak Tergantikan

Ada satu pelajaran yang baru benar-benar saya pahami seiring bertambahnya usia.

Dulu saya takut kehilangan uang.

Kini saya lebih takut kehilangan waktu.

Uang bisa dicari kembali.

Tetapi waktu tidak pernah bisa diputar ulang.

Kesalahan finansial mungkin dapat diperbaiki.

Namun keputusan yang tidak selaras dengan diri sendiri bisa menghabiskan bertahun-tahun kehidupan.

Karena itulah saya semakin menyadari pentingnya mengenali potensi sejak dini.

Bukan untuk menjamin kesuksesan.

Tetapi agar setiap orang memiliki kesempatan menemukan jalur hidup yang lebih sesuai dengan dirinya.

## Mengapa Saya Peduli pada Potensi Manusia

Sebagian orang mungkin bertanya:

Mengapa saya begitu tertarik pada potensi manusia?

Mengapa saya peduli pada pendidikan?

Mengapa saya ingin membantu orang lain memahami dirinya?

Jawabannya sederhana.

Karena saya melihat terlalu banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencari tahu siapa dirinya.

Saya melihat orang cerdas yang kehilangan arah.

Saya melihat orang berbakat yang tidak pernah berkembang.

Saya melihat pekerja keras yang justru merasa kosong.

Lalu saya bertanya dalam hati:

Bagaimana jika mereka mengenal dirinya lebih awal?

Bagaimana jika mereka memahami kekuatan alaminya sejak muda?

Bagaimana jika mereka mendapatkan arahan yang lebih tepat?

Mungkin perjalanan hidup mereka akan berbeda.

## Tentang Generasi yang Akan Datang

Hari ini saya tidak dapat kembali ke usia 18 tahun.

Tidak ada mesin waktu.

Tidak ada kesempatan mengulang masa lalu.

Namun masih ada satu hal yang dapat dilakukan.

Saya bisa berbagi pengalaman.

Saya bisa mendokumentasikan pelajaran hidup.

Saya bisa membantu generasi berikutnya mengenal dirinya lebih awal.

Saya bisa mengajak lebih banyak orang tua memahami anak-anak mereka dengan lebih baik.

Karena saya percaya, setiap anak terlahir dengan potensi yang unik.

Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda.

Setiap anak memiliki keistimewaan yang tidak selalu terlihat oleh dunia.

Tugas kita bukan membentuk mereka menjadi seperti yang kita inginkan.

Tetapi membantu mereka menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.

## Penutup

Jika hari ini saya benar-benar dapat bertemu dengan diri saya yang berusia 18 tahun, mungkin hanya ada satu kalimat yang akan saya sampaikan:

“Jangan terburu-buru menentukan jalan hidup sebelum benar-benar mengenal dirimu sendiri.”

Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi seperti orang lain.

Hidup adalah perjalanan untuk menjadi diri sendiri.

Dan semakin cepat seseorang memahami siapa dirinya, semakin besar peluang untuk menjalani hidup yang selaras, bermakna, dan minim penyesalan.

Sekarang saya ingin bertanya kepada Anda.

Jika hari ini Anda bisa kembali ke usia 18 tahun, nasihat apa yang akan Anda berikan kepada diri Anda sendiri?

Dermatoglyphs, atau analisis sidik jari, adalah metode untuk mengetahui potensi genetik seseorang

Dermatoglyphs, atau analisis sidik jari, adalah metode untuk mengetahui potensi genetik seseorang

Dermatoglyphs, atau analisis sidik jari, adalah metode untuk mengetahui potensi genetik seseorang, yang meliputi hemispheric dominasi, gaya belajar, gaya kerja, karakter dasar, bahasa cinta. Ketika Anda mengetahui potensi Anda, Anda meningkatkan peluang sukses dalam hidup dan lebih memahami diri sendiri dan orang lain. Sidik jari memiliki potensi yang sangat besar untuk mengidentifikasi seseorang dan hal ini telah disebutkan 15 abad yang lalu dalam Al Qur’an seperti dalam ayat berikut: “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? .” (Al Qur’an, Al Qiyamah (75) :3-

Melalui berbagai penelitian telah menjadi jelas bahwa sidik jari setiap orang adalah unik untuk setiap orang. Setiap orang memiliki seperangkat sidik jari yang berbeda satu sama lain, sehingga sidik jari saat ini digunakan untuk identifikasi manusia di seluruh dunia. Dan kini – dengan penelitian yang sedang berlangsung – sidik jari juga dapat digunakan untuk mengetahui atau memetakan kecerdasan/bakat seseorang, gaya belajar berdasarkan kepribadian atau sifat bawaan

Analisis sidik jari adalah metode berbasis teknologi terbaru untuk menganalisis kemampuan orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan mengetahui kemampuan seseorang, dimungkinkan untuk mengembangkan peluang untuk berhasil dalam hidup secara lebih efektif dan efisien daripada sebelumnya, karena gaya belajar, kepribadian alami, dan pekerjaan yang sesuai dapat diidentifikasi. Mengapa perlu dilakukan analisis sidik jari? agar pandangan hidup lebih terarah dan kita bisa lebih menikmati profesi yang akan kita geluti kedepannya. Simak video berikut yang menggambarkan

Banyak orang bingung memilih jurusan dan karir.

Banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk melakukan pekerjaan tertentu, tanpa mengetahui kemampuan dan keinginan anak itu sendiri, sehingga ada orang yang mengambil posisi yang bertentangan dengan asal pendidikannya, atau ada yang dipaksa menjadi profesi; dll. . Kebingungan ini dapat dijawab dengan analisis sidik jari, karena hasil tes memberi tahu kita kecerdasan bawaan, gaya belajar, dan kepribadian kita, sehingga kita dapat lebih fokus untuk memaksimalkan potensi kita. Analisis sidik jari didasarkan pada ilmu yang disebut dermatoglyphics. Dermatoglyph berasal dari kata Yunani Derma, artinya kulit dan mesin terbang; berarti mengukir. Ilmu ini didasarkan pada teori garis-garis pada epidermis atau permukaan kulit. Dermatoglyph memiliki landasan ilmiah yang kuat karena didukung oleh penelitian, ilmu ini meyakini bahwa sidik jari merupakan “cetak biru” seseorang. Para ahli tertarik dengan sidik jari karena :

1. Sidik jari setiap orang berbeda. Tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama, dan sidik jari tidak dapat dipalsukan.

2. Sidik jari bersifat permanen. Pola sidik jari tidak berubah dari lahir sampai meninggal.

3. Sidik jari mudah untuk diklasifikasi dan diukur. Mudah dilihat dengan mata telanjang dan dapat diintegrasikan ke dalam teknologi dan disimpan dalam database.

Sebuah studi dermatoglyphic mengungkapkan pola sidik jari pada janin antara usia 13 dan 19 minggu dalam kandungan. Saat ini, para ilmuwan secara intensif mempelajari sidik jari. Para peneliti menghubungkan sidik jari dengan kecerdasan, kesehatan fisik dan psikologis, dengan ukuran sampel lebih dari 3 juta orang sekarang. Hasil penelitiannya secara statistik menyimpulkan bahwa sidik jari sangat erat kaitannya dengan otak dan kepribadian manusia, sehingga ia menciptakan sebuah aplikasi berbasis teknologi yang diberi nama Fingerprint Biometric Analysis System. Tujuan dari program ini adalah untuk mengambil sampel sidik jari dan menganalisisnya serta menghasilkan laporan sidik jari yang mungkin.

Ilmu sidik jari telah berkembang dari masa ke masa. Ilmu sidik jari pada awalnya dirancang untuk identifikasi manusia karena sidik jari setiap orang berbeda (unik). Ilmu mengidentifikasi orang menggunakan sidik jari disebut FINGERPRINTING. Informasi ini kemudian digunakan untuk kepentingan forensik polisi.

rtet

etret

Ilmu sidik jari berkembang setelah Dr. Harold Cummins memperkenalkan DERMATOGRAFI. Dermatoglyph berasal dari kata Yunani Derma, artinya kulit dan mesin terbang; berarti mengukir. Ilmu ini didasarkan pada teori garis-garis pada epidermis atau permukaan kulit. Dermatoglyph memiliki landasan ilmiah yang kuat karena didukung oleh penelitian, ilmu ini meyakini bahwa sidik jari merupakan “cetak biru” seseorang.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa pola garis pada sidik jari manusia secara ilmiah terkait dengan kode genetik sel otak dan potensi kecerdasan manusia. Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1865, J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Noel Jaquin (1958). Pada tahun 1967, Beryl Hutchinson menulis sebuah buku berjudul “Your Life in Your Hands” tentang analisis tangan. Terakhir, hasil penelitian Beverly C Jaegers menyimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang.

Pola sidik jari seseorang sangat unik dan dipengaruhi oleh proses pembentukan genetik. Menurut Al Gaan, seorang praktisi sidik jari, sidik jari manusia tidak pernah berubah dan berkaitan erat dengan perkembangan sistem saraf. Pembentukan sidik jari dimulai saat janin berusia 13 minggu, begitu juga dengan pembentukan sel otak. Proses berakhir pada 2 minggu. Sidik jari manusia tidak pernah berubah dan tidak bisa dipalsukan.

Saat ini juga telah dikembangkan metode analisis sidik jari yang mengungkap kecerdasan dan kepribadian seseorang. Metode ini menggabungkan Dermatoglyph Science, Neuroscience (otak) dan Psychology (perilaku). Ilmu ini dikembangkan melalui studi terhadap ratusan ribu sampel sidik jari, yang darinya kemudian diketahui bahwa pola sidik jari mengekspresikan keterkaitan dengan perilaku tertentu. Analisis sidik jari juga dapat mengungkapkan kelainan dan bahkan kesehatan seseorang.

Berikut adalah rangkuman riset-riset yang telah dilakukan untuk meneliti korelasi antara sidik jari dan otak terutama dalam kaitannya dengan kecerdasan.

1. Hasil Riset independen pakar psikometrik dan personaliti Prof.Dr.M Zin Nordin (pakar psikometrik), DR. Mohd.Suhaimi Mohammad (pakar personaliti) dan DR Wan Shahrazad Wan Sulaiman menyimpulkan bahwa dalam pengujian inventori menunjukan reliabilitas yang BAIK dan TINGGI dengan koefisien alfa 0,849 dan 2. Didapati korelasi yang signifikan antara hasil test dengan alat test lain (simulasi aktivitas permainan tundra) menggunakan uji statistik khi kuadrat.

2. Penelitian oleh ilmuwan China, Liu Hongzhen, bisa dibaca di http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-ZGTY199902008.htm

3. Menurut Dr Syailendra WS. SpKJ, Pola sidik jari terbentuk sejak janin dalam kandungan usia 13 minggu – 19 minggu. Pola sidik jari juga bersifat herediter (diturunkan) dari orang tuanya. Pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA seseorang.

Pada th 1986, telah dilakukan penelitian oleh Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr Stanley Cohen, tentang adanya korelasi antara Nerve Growth Factor (NGF) dan Epidermal Growth Factor (EGF). Pada penelitian ini ditemukan korelasi antara pola garis epidermal kulit, dengan sistem pertumbuhan saraf yang menunjukkan terdapatnya hubungan pola sidik jari dan otak. Atas penemuan ini, mereka diganjar penghargaan nobel.

Menurut para ahli, sistem saraf pusat itu terhubungkan dengan bagian-bagian dari otak. Dan otak merupakan pusat semua aktifitas fisik dan mental seseorang. Setiap bagian bagian otak, pada area pre frontal, frontal, occipital, parietal dan temporal mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda dan kekuatan (dominansi) yg berbeda pula. Sehingga logis bila pola-pola sidik jari sesorang itu, bisa memanifestasikan kerja dari bagian-bagian otak tersebut.

Namun tentu analisa sidik jari hanya terbatas mengetahui potensi, bakat, kepribadian dasarnya sedangkan pengaruh lingkungan dan pendidikan juga akan menentukan karakter seseorang. Paling tidak dengan mengetahui bakatnya, kita dapat mengarahkan secara lebih baik agar maksimal dalam pencapaian tujuan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki bakat seni tentu akan lebih baik jika diarahkan ke seni daripada diarahkan menjadi ilmuwan karena tentunya dari segi biaya, usaha akan lebih efektif dan efisien.

4. Zhai Guijun, dalam makalahnya Report on Study of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute Zhengzhou DongFangZhou Intelligence Measurement & Consultation Research Center Wuhan University Oriental Intelligence Research & Test Center, yang dipublikasi pada 15 april 2006.

Berikut kutipan pernyataan yang dibuat oleh Zhai Guijun dalam makalahnya :

I started to study the correlation of dermatoglyph (fingerprints) and human intelligence in

1988. Through 19-year continuous efforts, I have established a preliminary systematic method for intelligence measurement through Dermatoglyphic identification. I have successively made study, measurement and sampling of over 40 thousand people in 25 regions of China, and gradually improved the practice and theory of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, as well as made it highly reliable and effective.

The method of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification passed the Science and Technology Achievement Appraisal (YKYCZ9212) by Henan Academy of Sciences on October 4, 1992,  and also passed the demonstration jointly presided by the Genetics Society of China, the Working Committee for Popular Science Activities under China Psychological Society, and the Working Committee for Health Care of Women and Children under China International Exchange and Promotive Association for Medical and Health Care (CPAM) on April 15, 2006.

Zhai Guijun mengemukakan bahwa dengan memanfaatkan sidik jari dalam penelitian ini hasil yang ia peroleh relatif konsisten dengan angka reliabilitas 0.798, 0.725, 0.840, dan 0.381 dengan melakukan pengukuran pada anak-anak sekolah dasar. Validitasnya adalah 0.995.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini :

The study on multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification (finger print) makes physiological and physical measurement of human intelligence possible.It is most likely an easily workable and accurate intelligence measurement before people can make precise determination of human intelligence from gene level.

It is possible to become the latest generation of intelligence measurement methods in succession to “Assessment Scale”. Multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification is capable to accurately identify the intelligence difference and personality difference of individuals. Therefore it may be used by schools or institutions in making appropriate selection of different talents. Dermatoglyph is the external existence of human genes and brains, and may also be considered as a representation of DNA sequence.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan Zhai Guijun, finger print analysis dapat dijadikan sebagai salah satu metode untuk mengukur potensi yang dimiliki oleh individu. Paper risetnya bisa dibaca di http://www.zdzw.com/html/yulw.htm

5. Ilmuwan Rusia meneliti sidik jari dan kaitannya dengan memilih profesi/pekerjaan, bisa dibaca http://strf.ru/science.aspx?CatalogId=222&d_no=21114

6. Publikasi ilmiah kaitan sidik jari dan otak sehingga berpengaruh pada perilaku. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10097430

7. Menurut Sunday Times, ilmuwan beberapa dari Barcelona University mempelajari sidik jari ratusan siswa dan menyimpulkan bahwa sidik jari mencerminkan kecerdasan. Secara intelektual orang cacat biasanya memiliki sidik jari yang secara substansial berbeda dengan orang normal.

Ilmuwan menemukan bahwa di antara ratusan siswa belajar, anak-anak cacat intelektual memiliki sidik jari yang memiliki lengkungan lebih dan pola melingkar. Selain itu, cetakan sawit mereka memiliki pola yang lebih normal daripada rekan-rekan normal mereka. Para ilmuwan berkomentar bahwa bubungan Simian ditemukan di telapak yang paling berhubungan dengan kecerdasan seseorang.

8. Thesis mengenai kaitan sidik jari dengan kelainan perilaku dari Prof.Thomas Fogle dari biology department at Saint’s Mary’s College, Notre Dame, Indiana, the United States berjudul Using Dermato­glyphics From Down Syndrome And Class Populations To Study The Genetics Of A Complex Trait.

Berikut ini sejarah perkembangan ilmu dermatoglyphics :

1684, Dr. Nehemiah Grew (1641-1712) presented Finger Prints, Palms and Soles An Introduction To Dermatoglyphics to the Royal Society

1685, Dr.Bidloo published an anatomical atlas, Anatomia Humani Corporis, with illustrations showing the human figure both in living attitudes and as dissected cadavers

1686, Dr. Marcello Malphigi (1628-1694) noted in his treatise; ridges, spirals and loops in fingerprints

1788, J.C.Mayer was the first to write out basic tenets of fingerprint analysis and theorized that fingerprints were unique

1823, Dr. Jan Purkinje classified the papillary lines on the fingertips into nine types: arch, tented arch, ulna loop, radial loop, peacock’s eye/compound, spiral whorl, elliptical whorl, circular whorl, and double loop/composite.

1823, Joannes Evangelista Purkinji found that the patterns on one’s finger tips and the ridges and lines on one’s prints begin to form at around the thirteenth week in the womb.

1832, Dr. Charles Bell (1774-1842) was one of the first physicians to combine the scientific study of neuro-anatomy with clinical practice. He published The Hand: Its Mechanism and Vital Endowments as Evincing Design.

1893, Dr. Francis Galton published his book, “Fingerprints”, establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints: Arch, Loop and Whorl.

1897,Harris Hawthorne Wilder was the first American to study Dermatoglyphics. He invented the Main Line Index, studied thenar hypothenar eminencies, zones II, III, IV.

1926,Dr. Harold Cummins & Dr. Charles Midlo coined the term “Dermatoglyphics”. They showed that the hand contained significant Dermatoglyphics configurations that would assist the identification of mongolism in the new-born child.

1936,Dr. Harold Cummins & Dr. Charles Midlo also researched the embryo-genesis of skin ridge patterns and established that the fingerprint patterns actually develop in the womb and are fully formed by the fourth foetal month.

1944, Dr Julius Spier Psycho-Analytic Chirologist published “The Hands of Children” he made several significant discoveries especially in the area of psycho-sexual development and the diagnosis of imbalances and problems in this area from the patterns of the hands.

1957, Dr.Walker used the dermal configurations in the diagnosis of mongolism

1968, Sarah Holt, whose own work ‘The Genetics of Dermal Ridges’ published in 1968, summarizes her research in of dermatoglyphics patterns of both the fingers and the palm in various peoples, both normal and congenitally afflicted.

1969, John J. Mulvihill, MD and David W. Smith, MD published The Genesis of Dermatoglyphics that provides the most up to date version of how fingerprints form.

1970, USSR,Former Soviet Union. Using Dermatoglyphics in selecting the contestant for Olympics.

1976, Schaumann and Alter’s ‘Dermatoglyphics in Medical Disorders’ published.Significant investigations have also been carried out into the dermatoglyphics indicators of congenital heart disease, leukaemia, cancer, rubella embryopathy, Alzheimer’s disease, schizophrenia etc.Dermatoglyphics research being directed into genetic research and the diagnosis of chromosomal defects.

1980, China carry out researching work of human potential, intelligence and talents in dermatoglyphics and human genome perspective.

1985, Dr. Chen Yi Mou Phd. of Havard University research Dermatoglyphics based on Multiple Intelligence theory of Dr. Howard Gardner. First apply dermatoglyphics to educational fields and brain physiology.

2000, Dr Stowens, Chief of Pathology at St Luke’s hospital in New York, claims to be able to diagnose schizophrenia and leukaemia with up to a 90% accuracy. In Germany, Dr Alexander Rodewald reports he can pinpoint many congenital abnormalities with a 90% accuracy.

2004, IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society. Over 7000 report and thesis published. Nowadays the U.S., Japan or China, Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.

 

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!